26 February, 2011

untuk ibu

Sabtu, 26 February 2011
Kemarin, hari Jum’at sepulang sekolah saya liqo dengan bu Shanty. Kita membicarakan tentang pengorbanan seorang ibu. Kita ngobrol mengenai sakitnya melahirkan.


Ternyata melahirkan itu complicated. Sakit, takut, mules, perih, senang, khawatir.. bisa dibayangkan ?


Betapa besarnya pengorbanan ibu kita. Akankah kita sia-siakan perjuangan beliau ? jihad yang beliau lewati dengan hati ikhlas ? rasa sakit yang luar biasa. Untuk siapa ? kita. Kamu. Saya. Bahkan, saya ingat sekali pas saya kelas 6 SD pas ibu saya mau melahirkan saya masuk ke kamar beliau


“Ibu, kok ada bidan disini ? adek mau lahir ya ?”
Tersenyum. “liat aja nanti. Pegi maen aja sono”


Ibu saya masih bisa tersenyum. Betapapun sakit yang dia rasakan. Tak bisa menghapus senyumnya.
Bayangkan betapa kecewanya beliau ketika di akhirat nanti ditanya oleh Allah SWT. Apa saja yang telah kita, kamu, saya kerjakan di dunia ini dan jawabannya adalah, buang - buang waktu, ngeceng cewek/cowok keren (kelakuan abege jaman sekarang), ngefly, pacaran.


Betapa sia -sia perjuangan beliau. Perjuangan 9 bulan ditambah sakitnya melahirkan yang malah menjerumuskan beliau ke neraka. Betapa beliau menyesal telah melahirkan kita padahal beliau bisa saja membunuh kita di rahimnya.


Kita, kamu, saya tentu tidak ingin mengecewakan beliau. Saya yakin, saya, kamu, kita adalah bibit-bibit unggul. Kita lahir dari induk yang tahan banting, tegar, kuat. Kita lahir dari rahim seorang perempuan yang luar biasa.  Seperti kata pepatah
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”


Kita, kamu, saya juga bisa seperti beliau. Kita, kamu, saya lahir bukan untuk jadi pecundang. Kita, kamu, saya dilahirkan dengan susah payah untuk menjadi bibit unggul. Untuk menjadi sukses. Untuk menjadi PEMENANG. Kita, kamu, saya adalah calon pemenang.
Dan yang ada di belakang semua itu adalah seorang ibu. Perempuan paling cantik di dunia ini. Perempuan yang mungkin melakukan apa saja untuk kita. Perempuan yang paling mengerti kita. Yang bersedia meminjamkan bahunya untuk curahan hati kita. Yang teduh wajahnya. Yang paling bisa membuat kita tenang. Yang percaya kita bisa. Bahkan saat semua orang tidak percaya kita. Beliau yang berada di garis depan mendukung kita.


Yang sering kita sakiti hatinya, tapi cintanya tak pernah berkurang. Yang sering kita buat menangis tapi tak pernah berhenti tersenyum. Yang selalu mendoakan anaknya, sekalipun kita tak pernah mendoakan beliau. Ibuku, ibumu, ibu kita.


Alhamdulillah Ya Allah, ibu saya masih disini. Masih bisa menyupport saya dikala saya lemah. Masih ada bahu paling nyaman untuk mencurahkan hati saya. Masih ada wajah paling teduh untuk menenangkan gundah saya.


Kalu beliau tak ada.



Kalau berangkat sekolah, tangan siapa yang hendak kucium?
Tak ada lagi tangan yang biasa saya, kamu, kita cium.
Tak ada lagi bahu tempat curahan hati saya, kamu, kita.
Tak ada beliau ketika saya sukses nanti. Yang kehadirannya paling saya nanti.
Ketika saya hendak menikah, tak ada yang bisa saya minta restunya.
Ketika saya akan menjadi seorang ibu, tak ada yang bisa mengajari saya caranya.


Jangan panggil beliau sampai beliau melihat perjuangannya tidak sia-sia Ya Allah.

Kasih ibu..
Kepada beta tak terhingga sepanjang masa..
Hanya memberi tak harap kembali..
Bagai sang surya menerangi dunia..



Untuk ibuku
Ibu nomor satu di dunia


No comments:

Post a Comment

gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. readers pergi meninggalkan jejak. dududu~~